Menu

THE AVENGER TEAM STM

THE AVENGER TEAM STM

Kafil Yamin

Kehadirannya tak terduga. Di luar sangkaan siapa pun. Aksi sedang deadlock karena penjagaan ketat dan keberingasan polisi, sudah banyak mahasiswa yang tumbang, tetiba mereka muncul dari satu arah, berseragam sekolah, hampir semuanya menggendong tas punggung sekolah.

Para mahasiwa heran: “Adik-adik mau kemana?” Dengan enteng salah satu dari mereka: “Sekarang kakak mundur dulu, kami yang maju. Kakak yang orasi. Kami yang dieksekusi. ”Cerita selanjutnya, sudah banyak dikenal warganet. Saya ingin menghadiri mereka melalui beberapa simpulan:

# Kekompakan # . Mereka bergerak teratur. Taktis. Luar Biasa, suka tanpa komando. Tanpa pemimpin. Hanya saling teriak di antara mereka. Ini menunjukkan kerja tim yang luar biasa. Sampai sekarang, orang tak tahu mana pemimpinnya, koordinatornya, membuat polisi sulit menundukkan mereka. Beda dengan kakak-kakaknya, yang terlihat ada pemimpin, juru bicara, yang gampang diundang, dinego, diarahkan Para anggota DPR yang mereka kenal adalah siswa aktif.

#Kepercayaan diri # . Mereka maju ke hadapan polisi bukan hanya dengan menantang, tapi dengan riang. Jauh dari panik. Dengan peralatan unik terdiri dari sapu lidi dan batangan kayu, mereka mengintimidasi polisi. Tak lama barisan polisi itu panik, tercerai berai, dan dengan ringan mereka membajak kendaraan polisi, menggiringnya ke barisan mahasiwa, lalu rame-rame berfoto memanfaatkan.

# Taktis-strategis # . Entah darimana kebisaan mereka menanggalkan serangan polisi. Tapi jelas mereka ‘tahu apa yang mereka lakukan’. Memancing polisi menembakkan gas air mata, dan dengan melemparnya ke arah polisi. Semprotan air mereka seperti pesta, “gua mau air! Gua mau air! Sini tambah! ”Teriak mereka untuk polisi. Setelah beberapa lama polisi selesai udara dan amuinisi, pindah mereka menyerang. Polisi mundur dan terkurung di apartemen Semanggi. Komandannya berbicara di airphone meminta damai.

#Norma dan etika#. Beberapa warganet bilang mereka barbar dan dan liar. Itu penilaian kurang ajar. Mereka punya norma dan prinsip yang kuat. Ketika menggiring kendaraan polisi, seorang dari mereka teriak: “Jangan rusuh woi! Jangan rusuh!” Semua taat. Lalu membiarkan kendaraan itu lepas. DI satu sudut ‘pertempuran’, adzan magrib terdengar, poilisi masih menembakkan gas air mata, seorang mereka teriak: “Tahan dulu Woi! Ga belajar ngaji lo?”

#Mengalir lepas#. Dengan pikiran lepas mereka melihat dunia tak banyak batasan untuk melakukan aksi. ‘Against the odds’. Mereka menerobos berbagai ketidakmungkinan. Seorang mereka bilang bantuan akan datang sebentar lagi, “Pake apa? Motor?” tanya kakak mahasiswa. “Kakak liat aja,” jawab si adik. Dan, gila, mereka datang dengan Transformer, kendaraan pengangkut kendaraan, yang tentu saja bisa mengangkut orang sekampung!

Bagaimana mereka bisa mendapatkan kendaraan itu, tak mungkin menyewa. Kebanyakan mereka bahkan tak punya ongkos. Mereka membajaknya. Sang sopir pasti tau risikonya kalau menolak. Tapi ini untuk perjuangan.

Mereka bergerak efektif, menantang, dan berhasil tanpa sokongan dana dan fasilitas dari perbincangan. Malam, seorang ibu memergoki mereka sedang makan di warteg. Beberapa siswa kelas I SMP. “Kalian ada ongkos pulang?” Yang mereka jawab dengan enteng: “Nunggu truk aja Bu.”

Si Ibu pemurah itu lantas membayari makan mereka dan memberi ongkos pulang.

Kadang-kadang kita perlu belajar dari mereka yang kita anggap penting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *